HomeOPINIKisah Bersekolah di STPDN

Kisah Bersekolah di STPDN

Djohermansyah Djohan

Guru Besar IPDN, Presiden i-Otda

Buku kisah nyata sangat bermanfaat untuk pelajaran. Buku Kisah Kesatria Sabang Merauke yang ditulis Jose Rizal (Gramedia, 2021) berdasarkan pengalamannya bersekolah di STPDN tahun 1995-1999. Pada masa Orde Baru tentu menarik dicermati. Mengingat STPDN dibangun dari penyatuan 20 APDN yang tersebar di Indonesia dengan acuan pendidikan terpusat ala AKABRI diprakarsai Mendagri Jenderal (Purn) Rudini.

Melalui cerita lima orang figur: Abdi dari Sumatera Barat, Faisal dari Sabang-Aceh, Bernie dari Merauke-Irian Jaya, serta Guntoro dan Abdul yang berasal dari tanah Jawa, dikisahkan perjalanan pengasuhan dan pendidikan di STPDN Jatinangor.

Untuk mengenakkan cerita ditampilkan tokoh Alisha, praja wanita, sebagai pacar Abdi dengan pacaran model “senyap” alias sembunyi-sembunyi kayak zaman Siti Nurbaya supaya tidak diazab senior.

Sedangkan tokoh dosen dimunculkan Profesor Iskandar,  pengajar mata kuliah Ilmu Politik yang harus menahan sabar karena separuh lebih isi kelas terlelap sampai meneteskan air liur menerima bahan ajar.

Kisah dimulai dari masuknya mereka ke dalam barak dengan kepala dicukur setengah botak. Menjadi peserta Latsarmil dilatih langsung oleh prajurit ABRI di Lembang.

Makan gaya kilat ratusan praja di menza yang dalam tempo hitungan kelima omprengan sudah ludes.

Belajar di kelas yang dianggap tempat teraman dan ternyaman sambil terlelap mengikuti perkuliahan.

Menjalani apel malam sambil deg-degan khawatir terjadi penggulungan atau ada perintah menghadap ke barak senior, atau kena steling ala tentara.

Akhirnya pada tahun 1999 setelah para kesatria ini mengalami berbagai penggodogan fisik dan mental, termasuk aneka latihan di tengah-tengah masyarakat lewat PPL, PKL, Desa Lab, Bhakti Karya Praja, KKN, Latsitarda bersama taruna Akabri/Akpol, dilantiklah mereka oleh Presiden BJ. Habibie.

Kini 21 tahun telah berlalu, STPDN telah berganti nama menjadi IPDN, penggabungan dari STPDN dengan IIP sebagai ekses dari kematian praja Wahyu Hidayat tahun 2003 akibat kekerasan.

Cara jarlatsuh juga telah berubah. Pengasuh yang berwenang membina kehidupan praja, bukan senior. Penguatan fisik diseimbangkan dengan penguatan akademik praja.

Bukan saja otot tapi juga otak harus diasah supaya bisa menjadi kader pimpinan pemerintahan daerah yang andal. Loyal, disiplin tinggi, komunikasi publik bagus, dan jago konsep.

Tidak pelak lagi buku ini wajib dibaca oleh para alumni sekolah pamong sambil bernostalgia bangkitkan adrenalin dan bangun imun yang diperlukan di masa pandemi ini.

Para calon praja, praktisi pemda, dan masyarakat umum perlu pula menyimak buku Jose Rizal ini guna mengetahui seluk beluk penempaan praja di sekolah pamong STPDN pada era awal pendiriannya.

Sebagai catatan penutup, guna memutakhirkan kisah pendidikan sekolah pamong , baiknya ditulis novel praja zaman now, dan satu lagi, cerita tentang perjalanan hidup dan karier 5 sekawan angkatan 07 hingga saat ini.(*)

radarpadanghttps://radarpadang.com
Radar Padang adalah media online di Sumatera Barat yang menyajikan berita aktual dan terpercaya berpedoman pada kode etik jurnalistik dan UU Pers.
RELATED ARTICLES

Pertamina Sub-sub

Taliban Rasul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments